"Mengenang Kenangan dengan Tulisan"

Friday, November 27, 2015

Review Power Bank Xiaomi 10000 mAh

Kali ini saya akan mereview Mi Power Bank 10000 mAh dari Xiaomi yang baru saja saya beli secara online di situsnya Xiaomi Indonesia (di sini) seharga Rp 195000. Sebelumnya saya akan memberitahukan beberapa produk Mi Power Bank.
1) Super Besar 16000mAh seharga Rp 325.000 | 2) Besar 10000mAh seharga Rp 195.000 | 3) Langsing 5000mAh seharga Rp 149.000.

Awalnya saya ingin membeli yang berkapasitas 5000mAh, Saat itu tertarik ketika berkunjung ke kos temen yang ada di Undip. Setelah cek harga di internet, ternyata harga yang kepasitasnya 5000mAh dengan yang 10000mAh tidak terpaut jauh. Dan perlu kalian tahu. Bahwasanya Mi 10000mAh adalah produk terbaru yang menggantikan Mi 10400mAh. Jadi Mi 10400mAh sudah tidak dijual lagi di pasaran. Entah kenapa ada produk penggantinya? Mungkin gegara 10400mAh ukurannya yang terlalu besar. Makanya Mi 10000mAh taglinenya "Cuma seukuran kartu nama".
Jadi dalam paket pembeliannya terdapat: 1. Mi Power Bank, 2. Kabel USB 3. User Manual Book. Oh iya, pada saat saya melakukan pembelian ini saya memilih yang Paket Power, Yaitu pembelian Mi 10000mAh + Mi LED seharga Rp 230000. Sehingga saya hemat Rp 22000 --karena kalau membeli satuan harga Mi LED adalah Rp. 57000. 
Paket pembelian: Mi 10000mAh, kabelUSB, buku manual pengguna
Paket Power (Mi 10000mAh + Mi LED)

Mi Power Bank ini memakai teknologi Polymer Cell 735Wh/L dari Panasonic dan LG, sehingga ukurannya lebih kecil dan padat. Dan juga menggunaan chip USB smart control dan chip charging/discharging (akan otomatis mengisi bila tersambung perangkat dan akan memutus alisan daya bila baterai perangkat sudah penuh, Mi Power Bank tidak hanya menyediakan 9 lapisan perlindungan untuk chip sirkuit, tapi juga meningkatkan efisiensi.
Selanjutnya bagaimana untuk mengetahui apakah Mi Power Bank itu asli atau bukan? dikarenakan saat ini marak meredar yang palsu. Oke yang paling mudah adalah dengan mengecek nomer atau kode otentifikasi dalam kardus kemasan (20 digit). Selanjutnya cek di sini.

Selain itu, mungkin bisa kita lihat fisiknya. Biasanya yang palsu logam dari Mi Power Bank yang palsu berwarna putih mengkilap, sedangkan yang asli berwarna putih beras. Dan juga kabel USB yang palsu pada kepala USB nya ada sablon logo Mi.

Sampai di sini dulu review saya semoga bermanfaat. :)

Update:
Pemakaian Mi Power Bank 10000mAh (dalam keadaan baterai penuh) mampu untuk mengisi daya baterai Microsoft Lumia 535 milik saya sebanyak 4 kali full. Itupun kadang sambil saya pakai untuk main game dan browsing internet.

Tambahan:

Atas: Mi 5000mAh
Bawah: Mi 10000mAh
Untuk kabel USB dalam paket pembelian Mi 10000mAh cenderung lebih panjang dibandingnya dengan kabel USB Mi Power Bank yang lain --kira-kira perbandingan panjangnya 2:3.


Friday, July 17, 2015

Ramadhanku


Ramadhan...
Tak kusangka kau begitu cepat meninggalkanku
dan orang-orang yang masih merindukanmu.
Maafkanlah aku yang belum bisa
menjaga hati dan perilaku saat bertemu denganmu.
Tapi aku berharap rindu ini masih tetap ada untukmu.
Aku berjanji
kan mempersipakan 11 bulanku untuk kembali menyambutmu
semoga tak hanya janji.
Yang hanya di mulut, tak menancap dalam sanubari.
Ramadhan...
Sampaikanlah kepada Tuhanmu.
Bahwasanya aku masih rindu dan ingin bertemu dneganmu.
Semoga saat bertemu lagi nanti
aku dan orang-orang yang sangat rindu
semua sudah dengan wajah yang baru.
Dengan persiapan jiwa dan raga.
Agar tak begitu kelimpungan di saat akhir akan berpisah denganmu
Ramadhan...
Sampaikan pula pada Tuhanmu.
Berikanlah aku waktu dan kesempatan
Untuk bisa memperbaiki ibadahku.
Meski tak pantas di jannah-Nya
aku juga tak kuat di neraka-Nya.
Meski sekedar menginjakkan kaki di pelatarannya.
Ramadhan..
Oh Ramadhan..
Aku rindu.

Hongkong, 30 Ramdahan 1436 H (Jum'at, 17 Juli 2015)




Saturday, April 25, 2015

Menyatukan 2 Do'a

Saturday, April 18, 2015

Saturday, April 11, 2015

Kalkulasi Cinta

Saturday, April 4, 2015

Mengendalikan Waktu


Terkadang kita merasa waktu berjalan begitu cepat. Entah benar ada adanya atau sekedar perasaan kita saja. Waktu sudah berjalan semestinya, tapi kita berjalan lambat. Atau kita sudah berjalan semestinya, tapi waktunya saja yang berjalan terlalu cepat. Dan bisa jadi, waktu yang sudah kita lalui ini kurang begitu berkualitas. Hening. Mencoba melihat lini masa yang sudah terlewati. Intropeksi!

Apa memang karena dunia itu mengasyikkan. Sehingga tak sadar waktu berjalan begitu cepatnya. Seperti saat kita mengikuti pelajaran ataupun perkuliahan. Kalau materinya mengasyikkan, rasanya cepet banget. Tiba-tiba waktu sudah habis. Perasaan baru duduk di kursi. Kok udah keluar ruangan kelas lagi. Apalagi kalau dosennya muda, cakep dan asyik ngajarnya.

Mungkin itu juga yang saya rasakan.

Sepertinya baru kemarin hasil UN itu diumumkan.
Sepertinya baru kemarin SNMPTN Tertulis itu dilaksanakan.
Sepertinya baru kemarin PPA (baca: Ospek) itu diadakan.
Sepertinya baru kemarin amanat memimpin organisasi itu diberikan.
Sepertinya baru kemarin kita berdua dipertemukan. Eciee.. (Siapa?)
Sepertinya baru kemarin…

Sekarang?

Sudah masuk di tahun keempat. Sibuk skripsi, sibuk penelitian. Sibuk cari pendamping wisuda juga? Belum. Sampai-sampai saya juga berpikir. Sepertinya baru kemarin seminar proposal skripsi. Eh, ternyata sudah berjalan 1 bulan lebih penelitian ini berjalan. Tapi belum selesai. Semoga segera. Tak mau ditinggalkan 3 orang sahabat –satu dosen pembimbing dan konsentrasi yang sama di bidang kimia komputasi-yang penelitiannya udah selesai duluan. Itu sebagai cambukkan semangat buat diri ini.

Melihat realita yang ada. Mungkin kita berangan-angan. “Seandainya kita bisa mengendalikan waktu”. Tapi itu tidak mungkin. Waktu sudah berjalan semestinya. Kita hanya perlu berpacu dengan waktu. Agar kita jangan sampai ditinggalkan oleh waktu yang berjalan dengan cepatnya. Dan juga kita harus bisa menaikkan level kualitas waktu kita. Dengan mengisi waktu dengan melakukan hal-hal yang positif. Tak mau kan menyesal dikemudian hari?

Semarang, 4 April 2015